Jumat, 27 Februari 2009

Abi


Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di salah satu tikungan, ada sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat. Namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdo'a dan berharap, kalau suatu saat Allah dapat memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendo'akan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yang tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Allah telah mengabulkan do'a sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yang telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku."

---


Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah tingkah kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikit pun mendengar dan melihat sekeliling kita. Tapi Allah sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada Kita. Dia selalu dengan Sabar Menuntun dan Menolong Kita.

Minggu, 22 Februari 2009

Tauladan kebaikan

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikanmaka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.”(Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban)
Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu sajatujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat,mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yangmengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikanitu sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya,bukan lihat siapa yang mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itubenar atau salah, menerima atau menolak dakwah dengan merujuk padaapa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa simpati dan cinta manusiaterhadap diri dai merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah, makamewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari dakwah itu sendiri.
Ada Beberapa cirri pelopor dai di antaranya adalah:
a. Berlapang Dada.
Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang“merugikan” diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagihadirnya kecintaan. Allah swt. berfirman: “Mereka harus memaafkandan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22) Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut.“Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satujalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dankecenderungan- kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikianmeningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalahkeimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam SyakhshiyyatulMuslim Kama Yushawwiruhal Quran.
b. Mencintai karena Allah.
Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus.Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasaninteraksi seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karenaAllah swt. Anas bin Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisiRasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yangsedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw.aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Sudahkah kamumenyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.”Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan,‘Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab,‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula (Allah)Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits riwayat Ahmad)
c. Silaturahim
Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkanapa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takutkepada Rabb mereka dan merasa takut akan buruknya penghitungan.”(Ar-Ra’d: 21) Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungandengan orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw.juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskanhubungan, yakni memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan) .”(Muttafaq ‘alaih) Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaatbagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian,bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikanempati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya.Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu yang konkret yangdapat dirasakan oleh si mad’u.
d. Menebar Senyum
Menampilkan wajah cerai dan senyum adalah amal shalih yang ringanuntuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruhbesar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkaumeremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemuisaudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). Sebab, “Senyummu di hadapanwajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)
e. Jauhi kesombongan
Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkanhal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah(menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhiriya dan kesombongan. Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan) ,atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua ituakan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”
f. Hati-hati dalam berjanji.
Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janjiakan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa sertakehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yangmelanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihanyang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkanbukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau mengimbangijanji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk serupa. Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh manapara dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya.Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra.Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapandengan pemelihara kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih darikorupsi akan berhadapan langsung dengan orang yang membangun kejayaandengan korupsi.
Allahu a’lam.
by : Habibi

Tauladan Kebaikan

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikanmaka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.”(Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban) Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu sajatujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat,mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yangmengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikanitu sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya,bukan lihat siapa yang mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itubenar atau salah, menerima atau menolak dakwah dengan merujuk padaapa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa simpati dan cinta manusiaterhadap diri dai merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah, makamewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari dakwah itu sendiri. Ada Beberapa cirri pelopor dai di antaranya adalah:

a. Berlapang Dada.

Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang“merugikan” diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagihadirnya kecintaan. Allah swt. berfirman: “Mereka harus memaafkandan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)

Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut.“Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satujalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dankecenderungan- kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikianmeningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalahkeimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam SyakhshiyyatulMuslim Kama Yushawwiruhal Quran.

b. Mencintai karena Allah.

Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus.Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasaninteraksi seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karenaAllah swt. Anas bin Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisiRasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yangsedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw.aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Sudahkah kamumenyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.”Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan,‘Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab,‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula (Allah)Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits riwayat Ahmad)

c. Silaturahim

Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkanapa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takutkepada Rabb mereka dan merasa takut akan buruknya penghitungan.”(Ar-Ra’d: 21) Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungandengan orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw.juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskanhubungan, yakni memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan) .”(Muttafaq ‘alaih) Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaatbagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian,bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikanempati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya.Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu yang konkret yangdapat dirasakan oleh si mad’u.

d. Menebar Senyum

Menampilkan wajah ceria dan senyum adalah amal shalih yang ringanuntuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruhbesar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkaumeremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemuisaudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). Sebab, “Senyummu di hadapanwajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)

e. Jauhi kesombongan

Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkanhal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah(menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhiriya dan kesombongan. Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan) ,atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua ituakan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”

f. Hati-hati dalam berjanji.

Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janjiakan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa sertakehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yangmelanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihanyang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkan bukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau mengimbangi janji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk serupa. Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh mana para dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya.Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra.Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapan dengan pemelihara kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih dari korupsi akan berhadapan langsung dengan orang yang membangun kejayaan dengan korupsi.

Allahu a’lam.