Senin, 30 Maret 2009

Ular Makan Mayat

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”
Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?” Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya;
1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang
2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

Sabtu, 28 Maret 2009

ya Allah


Ya Allah banyak nian nikmat dan hidayah yang engkau berikan kepada hambaMu fil Ardi.namun banyak nian dari hambaMu yang lupa akan nikmat yang telah Engkau berikan.

ya Allah Engkau percayakan bumi beserta isinya kepada makhlukMu yang bernama Manusia agar dapat di gunakan dengan sebaiknya,demi kemaslahatan seluruh mkhluk di Bumi, tapi ternyata banyak nian manusia yang lupa tugas dan kewajiban itu sehingga apa yang ada di bumi tidak terawat dengan baik bahkan kini Rusak yang parah.

ya Allah hambaMu ini sedang dalam masa ujiMu untuk mengemban Amanah di bumi,dan jadikanlah Hamba kekasihMu dan kekasih RosulMu SAW yang di hari akhir kelak dapat melihat dan bersama manusia pilihan Muhammad SAW.

jiwa, raga, harta, keluarga adalah milikMu maka jadikanlah hamba manusia yang sadar bahwa siapa hamba ini!!!!!!!!!!!!!

Senin, 09 Maret 2009

Akhwat Sejati

Suatu ketika, seorang santri putra bertanya pada Ustadznya: Ya Ustadz, Ceritakan Kepadaku Tentang Akhwat Sejati…

Sang Ustadz pun tersenyum dan menjawab…Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar jilbabnya yang lebar, tetapi dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghudhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian islamnya….

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kelembutan suaranya, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan laki2 bukan mahramnya…..

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak2nya, keluarga dekatnya, para jama’ah, para tetangga dan orang2 di sekitarnya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat ia bekerja tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah tangganya…

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang enak2, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan suami dan anak2nya yang sebenarnya tidak rewel, pintar mengatur cash flow finansial keluarga, mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari wajahnya yang cantik, tetapi dari bagaimana ia bermurah senyum dan sejuk jika dilihat di hadapan suaminya dengan sepenuh hati tanpa dibuat2/dipaksakan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari banyaknya ikhwan yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari komitmennya untuk mengatakan bahwa sesungguhnya “Tidak ada kata “CINTA sebelum menikah.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari gelar sabuk hitam dalam olahraga beladirinya, tetapi dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan…

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sekedar banyaknya ia menghafal Al-Quran, tetapi dari pemahaman ia atas apa yang ia baca/hafal untuk kemudian ia amalkan dalam kehidupan sehari2.

….setelah itu, Si Murid kembali bertanya…

“Adakah Akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ya Ustadz ?”

Sang Ustadz kembali tersenyum dan berkata: “Akhwat seperti itu ada, tapi langka.

Sekalipun ada, biasanya ia memiliki karakter khas antara lain; Sangat mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun, tidak lepas dari dunia da’wah (minimal di lingkungan sekitar tempat tinggalnya), hidup berjamaah tapi tidak dikenal ‘ashobiyah, tidak ingin dikenal-kecuali diminta/didesak oleh jama’ah (masyarakat), dari keturunan orang2 yang shalih/shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amalan ibadah harian, mingguan dan bulanan di atas rata2 orang kebanyakan, hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati, sangat berbakti terhadap orang tua, sangat hormat kepada yang lebih tua dan sangat sayang terhadap yang lebih muda, sangat disiplin dengan sholat fardunya, rajin shaum sunnah dan qiyamullail & atau bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang2 yang mengenalnya, rajin memperbaiki istighfarnya (taubatan nashuha), rajin mendoakan saudara2nya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzolimi secara terang2an/tersembunyi, rajin bersilaturahim, rajin menuntut ilmu-mengaji- (terutama yang syar’i)/minimal rajin hadir di majlis ilmu dan mendengarkannya, senantiasa menambah/memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca/menghafal alqur’an atau hadits dan buku2 yang bermanfaat, pintar/kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan/minuman yang ia konsumsi, sangat perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin sekali soal thaharah, sangat terjaga dari soal2 ikhtilat apalagi berkhalwat, jauh dari gosip-menggosip, lisan dan semua perbuatannya senantiasa terjaga dari hal2 yang sia2, zuhud, istiqomah, tegar, tidak takut/bersedih hati hingga berlarut2 melainkan sebentar (wajar), pandai menghibur dan pandai menutupi aib/kekurangan dirinya dan orang2 yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan/kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfak (bershadaqah), ikhlas, jauh dari riya, ujub, muhabahat, takabur dan tidak emosional, cukup sensitif tapi tidak terlalu sensitif (tidak mudah tersinggung), selalu berbuat ihsan dan muraqobatullah (selalu merasa dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT baik di saat ramai maupun di saat sendirian), selalu berhusnudzon kepada setiap orang, benar2 berkarakter jujur (shiddiiq), amanah dan selalu menyampaikan yang haq dengan caranya yang terbaik (tabligh), pantang mengeluh/berkeluh kesah, sangat dewasa dalam menyikapi problematika kehidupan, mandiri, selalu optimis, terlihat selalu gembira dan menentramkan, hari2nya tidak lepas dari perhitungan (muhasabah) bahwa hari ini selalu ia usahakan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, dan senantiasa pandai bersyukur atas segala ni’mat (takdir baik) serta senantiasa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan (takdir buruk) dalam segala keadaan. Kapan pun dan di manapun..

Si Murid rupa2nya masih penasaran, dan bertanya kembali kepada Sang Ustadz. “Ya Ustadz, adakah cara yang paling mudah untuk mendapatkannya? atau minimal bisa mendapatkan seorang Akhwat yang mendekati profil Akhwat Sejati??

Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya: “Ada, jika antum ingin mendapatkan Akhwat Sejati nan benar2 Shalihat sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRI ANTUM…!! karena InsyaAllah Akhwat yang shalihat adalah pada dasarnya juga untuk Ikhwan yang shaalih…

Amiin, Wallahu a’lam bishawab.

PACARAN DALAM ISLAM


Ta’aruf Pranikah

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya milik Allah Azza Wajalla, atas segala nikmat yang telah dikaruniakannya kepada kita, nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat teman-teman yang baik, dan lain sebagainya. Sholawat dan salam tercurah kepada tauladan kita, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau radhialllahu ‘anhum, serta umatnya dahulu, kini, dan nanti yang berusaha untuk tetap istiqomah dalam menjalankan syariat agamanya.

Lazim kita dengar saat ini, entah lingkungan disekitar kita, atau dari infotainment, seseorang yang sedang dekat dengan lawan jenis layaknya mereka yang sedang berpacaran dibahasakan dengan “ta’aruf”. “Kita ga pacaran ya say, hanya ta’aruf” atau “Kita ingin proses ini baik..makanya kita ngga pacaran, tapi ta’aruf” dll. Kalimat-kalimat mereka benar, tetapi tidak sesuai dengan kenyataannya. Istilah “ta’aruf” yang mereka maksud gejalanya sama dengan mereka yang berpacaran :) . Mungkin juga karena mereka belum paham, ta’aruf seperti apa yang dimaksudkan oleh agama, tetapi boleh jadi juga karena salah memilih informasi/ pengetahuan tentang ta’aruf, sehingga informasi yang mereka dapat adalah informasi ta’aruf yang sesungguhnya telah terdistorsi. Mereka beranggapan ta’aruf tidak ada bedanya dengan pacaran, bagi mereka ta’aruf ya pacaran..pacaran ya ta’aruf, hanya beda istilah. Padahal pada kenyataannya, Pacaran dan Ta’aruf adalah dua hal yang sangat berbeda. Pacaran mewakili sebuah fenomena, sedangkan Ta’aruf adalah anjuran Qurani (ada didalam Al Quran dan Sunnah). Apakah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan Ta’aruf(perkenalan yang syar’i) itu ?. Allah SWT berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13). Adalah fakta bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan kita dengan beragam warna kulit, beragam bahasa, menjadikannya bersuku-suku, melebihkan daerah yang satu dari daerah yang lain, sehingga menjadi sunnatullah untuk masing-masing kita saling berkenalan. Ada banyak faktor kenapa orang harus berkenalan, mungkin ingin menambah teman, mempelajari budaya orang lain, bisnis, perdagangan, jodoh, dsbnya, selama perkenalan itu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan dan cara-cara yang baik, maka perkenalan itu akan mendatangkan keberkahan Allah SWT. Tetapi yang paling penting yang hendak disampaikan oleh ayat ini adalah Allah SWT hendak mengingatkan kita agar selalu memiliki semangat taqwa ketika akan berkenalan dengan orang lain. Artinya, ta’aruf/ perkenalan apapun yang kita lakukan, akan terkait dengan anjuran dan batasan yang dimaksudkan oleh ayat diatas. Termasuk perkenalan yang kita lakukan untuk tujuan pernikahan/ ta’aruf pranikah.

Seringkali kita menemukan orang yang begitu mudahnya bertemu dengan pasangan mereka, melalui sebuah proses perkenalan yang bisa dibilang sangat singkat, tetapi pernikahan mereka penuh cinta, keberkahan, kasih sayang, dikaruniai anak-anak yang sholeh/ah dsbnya. Disisi yang lain kita melihat orang yang begitu sulit menemukan pasangannya, kemudian melakukan proses “perkenalan” yang sarat dengan perkara-perkara yang mendekati zina, setelah menikah pun, ternyata pernikahan mereka ternyata tidaklah bertahan lama, kalaupun bertahan, masing-masing anggota keluarganya merasa kering, tidak ada kasih sayang, tidak ada cinta, tidak ada tujuan-tujuan yang besar yang ingin dibangun dari sebuah keluarga muslim. Apa yang menjadi perbedaan kondisi pertama dan kondisi kedua?. Padahal permasalahan yang dihadapi oleh kondisi pertama dan kondisi kedua boleh jadi sama, tetapi pribadi2 pada kondisi pertama dapat menyelesaikan setiap persoalan itu dengan baik karena dilandasi oleh semangat taqwa, sama halnya ketika mereka memulai perkenalan itu. Sedangkan pada kondisi kedua, ketika muncul masalah, kecenderungan untuk menyalahkan pasangan begitu besar, karena memang selama ini, semua bentuk perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan selama masa perkenalan hanyalah kamuflase agar “cintanya” diterima. Masa-masa perkenalan yang pada awalnya bertujuan agar dapat mengenali karakter sang calon, berubah menjadi ajang “sharing” romantisme. Betapa banyak mereka yang pada awalnya memiliki niat untuk perkenalan yang baik, tetapi tidak/ kurang memiliki ilmu akan hal itu akhirnya jatuh kepada perkara yang bertentangan dengan agama.

Perkenalan-perkenalan untuk tujuan yang lebih spesifik seperti pernikahan, haruslah dengan sebuah pemahaman yang benar akan pernikahan itu sendiri, jika tidak ingin mengalami kesulitan. Seperti..Apa yang menjadi ukuran kesiapan kita untuk menikah? Kriteria apa yang termasuk kriteria yang dekat dengan perkara agama? Apa yang menjadi batasan-batasan dalam mengusahakan perkenalan yang syar’i? Apa yang sudah kita pahami tenang “pre and after” pernikahan? Apakah lingkungan kita, sahabat-sahabat kita sehari-hari dekat dengan nilai-nilai agama? jangan-jangan setelah kita “hitung-hitung” ternyata orang-orang yang ada dilingkungan kita selama ini kurang dekat dengan perkara-perkara agama. Sahabat-sahabat yang kita miliki lebih banyak yang mendiamkan kesalahan kita daripada meluruskan kesalahan kita. Atau sahabat-sahabat yang kita miliki lebih banyak mengajak kita kepada perkara-perkara yang “meragukan” serta dekat dengan maksiat daripada yang jelas dan bernilai ibadah. Atau sahabat-sahabat yang kita miliki lebih banyak yang kurang mengenal adab pergaulan didalam Islam, dll..ketidakpahaman kita dan lingkungan yang kurang baik dapat menjadi sebab bagi kita “kesulitan” untuk bertemu/ dipertemukan dengan calon yang baik. Al Imam Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat 13 dari surat Al Hujurat diatas : “….Ayat mulia dan hadits2 syarif (*) ini telah dijadikan dalil oleh beberapa ulama yang berpendapat bahwa kafaah (sederajat) didalam masalah nikah itu tidak dijadikan syarat(sederajat-dalam hal kecantikan/kegantengan, keturunan, harta/kekayaan-ed), dan tidak ada yang dipersyaratkan kecuali agama. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala “..Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. Sedangkan ulama lainnya mengambil dalil-dalil lain yang terdapat dalam buku-buku fiqih. Dan kami telah menyebutkannya sekilas mengenai hal itu dalam kitab Al Ahkam. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah semata.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS Al Hujurat:13 Juz 26).

(*)Diantara Hadits2 Syarif (mulia) tersebut : 1. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim, diriwaytkan juga oleh Ibnu Majah) 2. Dari Abdullah bin Amirah, suami Darrah binti Lahab, dari Darrah binti Lahab radhiallahu’anha, ia berkata :”Ada seorang laki2 yang berdiri menemui nabi SAW yang ketika itu beliau tengah berada diatas mimbar, lalu ia berkata :’ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?’ Rasulullah SAW menjawab ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik bacaan (Al Quran)nya, paling bertaqwa kepada Allah SWT, paling gigih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahim’. (HR Ahmad) Didalam ayat yang lain, Allah SWT berjanji dalam firmanNya “Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….” (QS.24:26). Jadi, sebagai seorang muslim/ah yang benar, seharusnya kita tidak perlu khawatir akan mendapatkan pendamping yang tak sekufu agamanya karena semuanya kembali kepada diri kita sendiri.Yang kesemuanya akan bermuara kepada betapa besar kadar keimanan dan keikhlasan kita kepada Allah SWT.

Terkait dengan memilih teman, Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang akan mengikuti agama teman akrabnya, oleh sebab itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa teman akrab kalian.” (H.R. Abu Daud). Memfilter teman karena agamanya hanya dapat kita lakukan, jika kita sendiri telah mengetahui batasan-batasan agama mengenai hal itu. Jadi perbanyaklah mengaji, belajar agama dari para ahlinya, agar semakin kenal kita dengan Islam, agar muncul kecintaan kita kepada Islam, agar selalu terjaga diri kita dari dosa-dosa kecil, dsbnya. Yang jika dengan dosa-dosa kecil saja, kita berhati-hati, apalagi dengan dosa-dosa yang jelas-jelas keji semacam zina. InsyaAllah akan mendekatlah orang-orang, sahabat-sahabat, yang juga berusaha untuk menjauhkan diri mereka dari dosa-dosa keji itu, terutama secara khusus terkait dengan usaha kita menjemput jodoh yang sudah dijanjikan Allah SWT, yakni laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik, begitu juga sebaliknya. Wallahu’alam. wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Selasa, 03 Maret 2009

nasehat yang baik


nasehat dapat dibagi menjadi dua kategori; nasehat yang baik dan nasehat yang tidak baik. Padahal secara umum, kata “nasehat” sering dikonotasikan hanya dalam rangka kebaikan dan seharusnya ditujukan untuk memberi kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Tidak mungkin seseorang menjerumuskan orang lain melalui media nasehat atau merupakan hal yang mustahil, nasehat yang disampaikan justru bertujuan untuk menjerumuskan orang ke dalam kemaksiatan dan kesusahan.

Namun penggunaan “nasehat” dalam konteks yang negatif ternyata digunakan oleh Al-Qur’an, yaitu nasehat yang justru akan menjerumuskan orang lain ke dalam bahaya, seperti yang digambarkan dalam kisah perjalanan nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya yang hendak membunuhnya. Demikian juga, nasehat yang pernah disampaikan oleh Iblis kepada nabi Adam dan Hawa yang justru untuk menjerumuskan keduanya ke dalam kemaksiatan.

Nasehat yang menjerumuskan yang dimaksud adalah bujuk rayu saudara-saudara Yusuf as untuk meyakinkan ayahanda mereka Ya’qub as agar mengizinkan Yusuf bermain bersama mereka. Padahal dibalik nasehat itu, sesungguhnya mereka menyembunyikan niat jahat terhadap Yusuf yang memang sudah dirancang dengan matang.

Allah swt berfirman, “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang memberi nasehat untuk kebaikannya.” Yusuf: 11.

Demikian juga syaitan dalam memperdaya manusia terkadang menggunakan media nasehat seakan-akan ia penasehat yang tulus seperti yang pernah berlaku terhadap Adam dan Hawa yang diabadikan Allah dalam surah Al-A’raf: 21, “Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”.

Untuk menyakinkan bahwa nasehatnya tulus dan tidak bermotif lain selain dari ingin memberikan kebahagiaan kepada keduanya, iblis bersumpah sebagai seorang penasehat yang ikhlas. Bahkan secara bahasa seperti yang diungkapkan oleh Imam Az-Zamakhsyari nasehat iblis diperkuat dengan tiga penegasan (ta’kid); lafadz sumpah itu sendiri, nun dan lam ta’kid adalah semata-mata untuk memperkuat keyakinan penerima nasehat bahwa ia benar-benar tulus dalam memberikan nasehatnya. Sungguh di luar dugaan dan kebiasaan memang, sehingga kita dituntut waspada terhadapnya.

Berdasarkan pembacaan terhadap kata “nasehat” dengan seluruh derivasinya yang tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur’an, tercatat bahwa kata ini tersebut sebanyak 13 kali. Dari ketiga belas ayat ini, surah Al-A’raf merupakan surah yang terbanyak menyebutkan kata ini, yaitu sebanyak 6 kali, hampir setengah dari penyebutan “nasehat” dalam seluruh ayat Al-Qur’an. Hal ini sangat wajar karena memang surah Al-A’raf banyak mengungkap tentang sikap dakwah para nabi Allah swt yang secara garis besar mereka adalah para penasehat ulung yang terbaik dan sangat bijak dalam menyampaikan pesan dan nasehat kebaikan kepada seluruh umat yang diistilahkan oleh Al-Qur’an sebagai “Nashihun Amin”. Sehingga dikatakan bahwa salah satu ayat dari surah Al-A’raf ini seperti yang dikatakan oleh Az-Zamakhsyari dan Ibnu Asyur sebagai “Ajma’u Ayatin fi Makarimil Akhlak”, ayat yang paling komprehensif dalam pembahasan akhlak yang mulia. Padahal nasehat menasehati termasuk akhlak yang mulia yang tentunya harus dibingkai dan dikemas serta berlangsung dalam suasana ukhuwwah dan koridor akhlak yang mulia juga. Jika tidak, maka tradisi ini akan kehilangan signifikansi nilainya dalam konteks akhlak Islam.

Pada kapasitas para nabi sebagai ‘nashihun amin’ yang disebutkan diantaranya dalam surah Al-A’raf: 68, “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” layak dan patut untuk dijadikan cermin dan contoh teladan, karena demikian seharusnya para penasehat itu bersikap dan berperilaku, sehingga tidak mudah dan gampang mengumbar nasehat kepada seseorang.

Inilah arti nasehat yang sesungguhnya menurut bahasa, yaitu mencari dan memilah sebuah perbuatan atau perkataan yang mendatangkan maslahat bagi sahabatnya. Seperti ungkapan bahasa Arab, Nashihul ‘Asal yang artinya madu yang murni yang telah dipilah dari beberapa madu yang banyak. Betapa nasehat yang baik hanya bermuatan positif dan melalui proses pemilahan kata atau tindakan yang tepat dan bisa memberikan manfaat bagi si penerima, bukan malah sebaliknya.

Jika demikian, memang tidak mudah memberikan nasehat yang baik kepada seseorang. Agar amaliah nasehat menasehati berlangsung dengan baik tanpa melahirkan su’u dzan dan kebencian, atau berubah status menjadi media “ta’yir”, maka yang harus diperhatikan dalam memberikan nasehat diantaranya adalah muatan nasehat itu sendiri, cara, media dan adab menyampaikan nasehat, suasana dan status sosial penerima nasehat, serta target yang hendak dicapai dari penyampaian nasehat tersebut.

Sebagai ilustrasi bisa dikemukakan disini bahwa pada ketika khalifah Harun Ar-Rasyid sedang melaksanakan thawaf, tiba-tiba seseorang berkata kepadanya dengan nada agak ketus: “Hai Amirul Mukminin, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada engkau dengan bahasa yang agak keras, maka terimalah dengan sabar!”. Amirul Mukminin menjawab: “Tidak, ini bukan sesuatu yang baik dan bukan pula merupakan sebuah penghormatan. Allah telah mengutus seseorang yang lebih baik dari kamu yaitu Musa as kepada orang yang lebih buruk dari saya yaitu Fir’aun, tetapi Allah memerintahkan Musa agar menyampaikan pesan atau nasehat kepadanya justru dengan bahasa yang lembut.

Simaklah firman Allah swt, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Thahaa: 43-44) (lihat Al-Mujalasah WaJawahirul Ilm karya Imam Abu Bakar Ahmad bin Marwan: 3/364). Disini nasehat harus berupa ucapan yang mampu meluluhkan hati penerimanya dan menyadarkannya dari kesalahan. Sehingga bukan termasuk nasehat yang baik jika kemudian penerima nasehat malah menjadi kesal, jengkel dan sebagainya.

Dalam konteks ini, Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Ar-Ruh membedakan antara pembicaraan yang bermuatan nasehat dengan pembicaraan yang berunsur “ta’nib atau ta’yir” (pembicaraan yang berkonotasi negatif untuk mengaibkan orang dan menelanjangi kejelekannya) bahwa nasehat merupakan sebuah kebaikan yang disampaikan kepada seseorang dengan cara yang santun, bijak dan baik serta penuh rasa kasih sayang dan tulus hanya mengharapkan ridho Allah swt dan kebaikan pada diri penerima nasehat. Sedangkan ta’nib bertujuan menghinakan dan menjelekkan seseorang meskipun dengan cara seolah-olah sedang memberi nasehat. Senada dengan pernyataan ini, Imam Syafi’i menjelaskan uslub yang terbaik dalam menyampaikan nasehat yang tersebut dalam kumpulan syairnya )Diwan Asy-syafi’i/ 96):

تعمدنى بنصحك فى انفرادى وجنبنى النصيحة فى الجماعه
فإن النصح بين الناس نوع من التوبيخ لا أرضى استماعه
وإن خالفتنى وعصيت قولى فلا تجزع إذا لم تعط طاعه

“Biasakanlah nasihatmu (disampaikan) dalam kesendirianku
Dan hindarilah (menyampaikan) nasehat di perkumpulan orang
Karena sesungguhnya nasehat di tengah orang banyak merupakan salah satu bentuk
Penghinaan yang tidak aku relakan untuk mendengarnya
Jika engkau menyalahi dan melanggar ucapanku ini
Maka janganlah kecewa (kesal) jika tidak ditaati (nasehatmu)”

Disinilah akan nampak perbedaan antara seorang mukmin yang tulus memberi nasehat dengan seorang yang disebut sebagai Al-fajir yang mempunyai motifasi tertentu dalam nasehatnya seperti yang disampaikan oleh Al-Fudhail bin Iyadh,

“Seorang mukmin itu selalu berusaha menutupi kesalahan orang lain lalu menasehatinya, sedangkan seorang pelaku maksiat cenderung berusaha membongkar aib orang lain dan menghinakannya”.

Dalam bahasa Rasul, amaliah nasehat menasehati merupakan akhlak unggulan sehingga seluruh agama ini dikatakan sebagai nasehat, “Agama itu adalah nasehat” demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Tamim Ad-Dari. Bahkan sahabat Jarir bin Abdullah menjadikan nasehat sebagai salah satu poin baiat kepada Rasulullah saw: “Saya berbaiat kepada Rasulullah untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mengamalkan nasehat bagi setiap muslim”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Sungguh – karena kelemahan insani – setiap kita sangat membutuhkan nasehat. Tentunya, nasehat yang baik, yang disampaikan dengan cara yang baik, dan dalam koridor akhlak yang baik, serta untuk tujuan kebaikan dan perbaikan.

Semoga budaya nasehat menasehati yang merupakan inti ajaran Islam akan senantiasa menjadi media komunikasi yang efektif antara umat Islam dalam menyampaikan masukan dan ide untuk kebaikan bersama dan budaya ini tidak menjadi media atau ajang ‘ta’yir” antara satu individu dengan individu yang lain, apalagi antar satu komunitas dengan komunitas yang lain. Allah swt berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Hujurat:12.

Allahu a’lam

perawatan jenazah


Dari Abi Hurairoh radhiallahu ”anhu berkata, Rasulullah shalallahu ”alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat) jenazah hingga ia ikut menshalatkannya, maka dia memperoleh pahala satu qirath. Adapun barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat jenazah) hingga mayat tersebut dikubur, maka dia memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan pada beliau apakah dua qirath itu? Beliau menjawab: seperti dua gunung besar. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).Menshalatkan jenazah hukumnya fardhu kifayah, yakni apabila telah ada sebagian orang yang menshalatkan, maka orang lain yang tidak ikut mengerjakan telah terlepas dari kewajiban. Hal itu bukan lagi merupakan sesuatu yang wajib baginya, namun lebih baik apabila dia mau ikut mengerjakannya (sunnah). Akan tetapi apabila tak seorangpun dari orang yang mengetahui kematian tersebut menshalatkan jenazah, maka seluruhnya menanggung dosa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai syarat syahnya pelaksanaan shalat jenazah, yakni memasang niat dalam hati bahwa ia hendak melaksanakan shalat jenazah, menghadap kiblat, menutup aurat yang melaksanakan shalat maupun yang dishalati dalam keadaan suci, jenazah telah berada di tempat tersebut, yang menshalatkan jenazah adalah orang yang beragama Islam yang telah baligh dan berakal atau orang telah memenuhi syarat melaksanakannya (mukallaf).
Adapun yang termasuk rukun dalam shalat jenazah adalah dilakukan dengan berdiri menghadap jenazah, mengumandangkan takbir sebanyak empat kali, membaca surat Al-Fatihah, mengucapkan shalawat untuk Nabi shalallahu ”alaihi wa sallam, berdo”a untuk jenazah, melaksanakan dengan tertib sesuai dengan urut-urutan yang telah ditentukan, mengucapkan salam sebagi penutup shalat.
Hal-hal yang di-sunnah-kan adalah setiap kali mengucapkan takbir disertai dengan mengangkat kedua tangan, membaca ta”awudz (a”udzu billahi minasy syaithanir rajim) sebelum membaca surah Al-Qur”an, berdo”a untuk dirinya sendiri (orang yang menyalatkan) dan untuk seluruh kaum muslimin, berhenti atau diam sejenak setelah takbir yang ke-empat sebelum mengucapkan salam, posisi tangan ketika bersedekap setelah takbir adalah tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkannya di dada, menoleh ke kanan ketika salam, tidak mengeluarkan suara ketika membaca (sirr).
Apabila jenazah yang dishalatkan itu laki-laki, posisi imam atau orang yang shalat sendirian persis tepat di dada jenazah.1) Adapun jika jenazah wanita, posisi yang menshalatkan (imam atau orang yang shalat sendirian) tepat berada di tengah jenazah.
Jumlah shaf sebaiknya diatur dalam tiga shaf.
Selanjutnya mengumandangkan takbir (yakni takbir pertama, ed). Setelah mengucapkan takbir langsung membaca ta”awudz dan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-fatihah. Tidak perlu membaca do”a iftitah, (sebagaimana dilakukan pada shalat-shalat yang lain, ed).
Pada takbir kedua, membaca shalawat untuk Nabi shalallahu ”alaihi wa sallam, sebagaimana dyang dibaca ketika duduk tahiyat dalam shalat, (yakni allahuma shalli”ala muhammad wa ”ala ali muhammad kama shallaita ”ala ibrahaim wa ”ala ali ibrahim innaka hamidum majid, ed).
Pada takbir ketiga berdo”a untuk jenazah, dengan do””a yang telah dicontohkan (ma”tsur), yakni antara lain :Allahumaghfirli hayyinaa, wa mayyitinaa, wa syahidana, wa ghaaibinaa, wa shoghiirinaa, wa kabiirinaa, wa dzakarinaa, wa untsaanaa. Innaka ta”lamu manqolibinaa, wa mats-waanaa wa anta ”ala kulli syain qodiir. Allahuma man ahyaitahu minna fa ahyihi ”ala islami was sunnati, wa man tawaffaitahu minna fatawaffahu ”alaihima, Allohummaghfirlahu warhamhu wa ”afihi, wa fuanhu, wa akrim nuzulahu wa wasi” mudkholahu, waghsilhu bilmai was salji wa barodi wa naqqihi minadz dzunubi wal khothoya kama yunaqqots tsaubu abyaddhu minad danas, wa abdilhui daro khoira min daa rihi wa zaujaa khoiram min zaujih, wa adkhilhul jannah wa a”idzhu min ”adzaabil qobri wa ”adzaabin naar waf sakh lahu fi qobrihi wa nawwir lahu fii hi.
Artinya : Ya Allah, ampunilah kami, baik yang masih hidup maupun yang telah mati, yang hadir di sini maupun yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, yang laki-laki maupun yang wanita. Engkau Maha Tahu tempat kami dan tempat istirahat kami. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, barang siapa yang Engkau hidupkan diantara kami maka hidupkanlah di atas Islam dan sunnah (ahli sunnah, pent). Barang siapa yang Engkau matikan diantara kami maka matikanlah di atas Islam dan sunnah. Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, ma”afkanlah dia, baguskanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah ia dengan air, salju dan embun, bersihkanlah ia dari dosa dan kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Jadikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya, pasangan yang lebih baik dari psangannya, masukkanlah ia ke dalam sorga dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah ia dalam kuburnya dan berilah ia cahaya didalamnya.
Do”a tersebut di atas khusus untuk kata ganti orang laki-laki atau untuk jenazah laki-laki. Oleh karena itu, apabila jenazahnya perempuan, maka kata ganti tersebut diganti dengan kata ganti orang ketiga (dhamir muannats), sehingga menjadi ”allahumaghfirlaha warhamha dan seterusnya.
Adapun jika jenazah tersebut anak kecil maka bunyi do”anya adalah:Allahumaj ”alhu dzukhro liwaalidaihi wa farotho wa ajroo wa syafii”aa mujaa baa. Allahuma tsaqqil bihi mawaa ziinahumaa wa a”dzimbihi ujuurohumaa. Walkhiqhu bishoolihi tsalafil mu”miniina wa aj”alhu fii kafaa lati ibroohiima wa qihi birohmatika ”adzabal jahiimi.
Artinya: Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan (tabungan amal) bagi kedua orang tuanya, sebagai bunga harta, sebagi pahala, sebagai pemberi syafa”at yang diterima. Ya Allah, beratkanlah dengannya timbangan kedua orangtuanya, besarkanlah dengannya pahalakedua orangtuanya. Gabungkanlah ia bersama pendahulu kaum mukminin yang shaleh. Jadikanlah ia dalam tanggungan Ibrahim, serta peliharalah ia dengan rahmat-Mu dari azab jahannam.
Setelah membaca do”a tersebut, lalu takbir keempat dan diam sejenak, kemudian salam ke arah kanan.(Adapun salam ke arah kiri boleh juga dilakukan, akan tetapi tidak melakukannyapun tidak mengapa, pent).
Apabila ada diantara orang yang ingin ikut menshalatkan namun terlambat dan tidak sempat mengikuti sebagian shalat tersebut, hendaklah ia tetap langsung bergabung dengan imam (jama”ah). Setelah imam menyelesaikan shalat, maka hendaknya ia menyempurnakan bagian-bagian shalat yang belum dikerjakannya.
Bila dikhawatirkan jenazah segera dibawa ke kubur, hendaknyalah orang yang terlambat tersebut menyingkat atau memendekkan jarak antara takbir yang satu dengan yang lain, kemudian salam. Sedang bagi orang yang tidak sempat menshalatkan jenazah sebelum dikuburkan, dibolehkan menshalatkannya dikuburnya.
Adapun bagi orang yang tidak berada di tempat jenazah diurus (atau bertempat tinggal jauh dari tempat jenazah, ed). namun ia mengetahui musibah kematian tersebut, maka ia dapat melakukan shalat ghaib dengan niat menshalatkan jenazah.
Selain orang dewasa dan anak-anak, sebgaimana yang telah dijelaskan di atas, yang juga wajib dishalatkan adalah janin dari seorang wanita yang keguguran, apabila janin tersebut telah berusia empat bulan atau lebih.

Jumat, 27 Februari 2009

Abi


Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di salah satu tikungan, ada sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat 'hangat' tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat. Namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdo'a dan berharap, kalau suatu saat Allah dapat memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendo'akan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yang tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Allah telah mengabulkan do'a sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yang telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata. "Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku."

---


Sahabatku, terkadang seperti Anak itulah tingkah kita. Terkadang kita Buta dan Tuli, tidak mau sedikit pun mendengar dan melihat sekeliling kita. Tapi Allah sebagai AYAH YANG BAIK dan SETIA pada Kita. Dia selalu dengan Sabar Menuntun dan Menolong Kita.

Minggu, 22 Februari 2009

Tauladan kebaikan

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikanmaka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.”(Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban)
Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu sajatujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat,mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yangmengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikanitu sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya,bukan lihat siapa yang mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itubenar atau salah, menerima atau menolak dakwah dengan merujuk padaapa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa simpati dan cinta manusiaterhadap diri dai merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah, makamewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari dakwah itu sendiri.
Ada Beberapa cirri pelopor dai di antaranya adalah:
a. Berlapang Dada.
Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang“merugikan” diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagihadirnya kecintaan. Allah swt. berfirman: “Mereka harus memaafkandan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22) Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut.“Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satujalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dankecenderungan- kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikianmeningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalahkeimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam SyakhshiyyatulMuslim Kama Yushawwiruhal Quran.
b. Mencintai karena Allah.
Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus.Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasaninteraksi seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karenaAllah swt. Anas bin Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisiRasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yangsedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw.aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Sudahkah kamumenyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.”Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan,‘Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab,‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula (Allah)Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits riwayat Ahmad)
c. Silaturahim
Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkanapa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takutkepada Rabb mereka dan merasa takut akan buruknya penghitungan.”(Ar-Ra’d: 21) Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungandengan orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw.juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskanhubungan, yakni memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan) .”(Muttafaq ‘alaih) Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaatbagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian,bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikanempati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya.Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu yang konkret yangdapat dirasakan oleh si mad’u.
d. Menebar Senyum
Menampilkan wajah cerai dan senyum adalah amal shalih yang ringanuntuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruhbesar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkaumeremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemuisaudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). Sebab, “Senyummu di hadapanwajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)
e. Jauhi kesombongan
Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkanhal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah(menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhiriya dan kesombongan. Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan) ,atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua ituakan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”
f. Hati-hati dalam berjanji.
Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janjiakan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa sertakehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yangmelanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihanyang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkanbukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau mengimbangijanji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk serupa. Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh manapara dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya.Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra.Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapandengan pemelihara kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih darikorupsi akan berhadapan langsung dengan orang yang membangun kejayaandengan korupsi.
Allahu a’lam.
by : Habibi

Tauladan Kebaikan

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menunjukkan jalan kebajikanmaka ia memperoleh pahala (seperti pahala) orang yang melaksanakannya.”(Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban) Menunjukkan jalan kebajikan adalah salah satu tugas dakwah. Tentu sajatujuannya untuk mengajak orang-orang melakoni kebajikan itu. Tetapi ingat,mengajak tidak cukup dengan bunga-bunga kata. Seseorang yangmengkampanyekan kebajikan haruslah menjadi pelopor kebajikanitu sendiri. Karena, tidak semua objek dakwah berprinsip “dengar perkataannya,bukan lihat siapa yang mengatakan”. Masih banyak yang menilai sesuatu itubenar atau salah, menerima atau menolak dakwah dengan merujuk padaapa yang ia lihat pada si juru dakwah. Jika rasa simpati dan cinta manusiaterhadap diri dai merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah, makamewujudkannya dalam diri dai adalah bagian dari dakwah itu sendiri. Ada Beberapa cirri pelopor dai di antaranya adalah:

a. Berlapang Dada.

Berlapang dada dalam merespon kesalahan-kesalahan terutama yang“merugikan” diri penyeru merupakan pintu gerbang penting bagihadirnya kecintaan. Allah swt. berfirman: “Mereka harus memaafkandan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22)

Sikap memaafkan ini tentu saja akan membuat hati menjadi lembut.“Islam menjadikan sikap pemaaf dan berlapang dada sebagai salah satujalan tarbiyah. Sikap itu dapat membersihkan hati dari dengki dankecenderungan- kecenderungan buruk lainnya. Dengan demikianmeningkatlah keyakinan seorang muslim dan semakin sempurnalahkeimanannya,” kata Musthafa Abdul-Wahid dalam SyakhshiyyatulMuslim Kama Yushawwiruhal Quran.

b. Mencintai karena Allah.

Untuk meraih cinta yang tulus adalah dengan mewujudkan cinta yang tulus.Cinta palsu hanya akan melahirkan cinta gombal. Oleh karena itu, landasaninteraksi seorang dai dengan mad’unya hanyalah landasan cinta karenaAllah swt. Anas bin Malik mengatakan, “Aku sedang duduk-duduk di sisiRasulullah saw. tiba-tiba seorang laki-laki lewat. Seseorang dari yangsedang duduk bersama Rasulullah saw. mengatakan, ‘Ya Rasulullah saw.aku mencintai orang itu.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Sudahkah kamumenyatakannya kepadanya?’ Orang itu menjawab, ‘Belum.’Kata Rasulullah saw., ‘Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.”Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan,‘Uhibbuka fillah (aku mencitaimu karena Allah).’ Orang itu menjawab,‘Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu (semoga mencintaimu pula (Allah)Yang karena-Nya kamu mencitaiku’.” (Hadits riwayat Ahmad)

c. Silaturahim

Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menyambungkanapa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, merasa takutkepada Rabb mereka dan merasa takut akan buruknya penghitungan.”(Ar-Ra’d: 21) Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk menjalin hubungandengan orang yang memutuskannya dengan kita. Rasulullah saw.juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskanhubungan, yakni memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan) .”(Muttafaq ‘alaih) Selain besar pahalanya, silaturahim juga mendatangkan banyak manfaatbagi seorang dai. Misalnya, memahami kondisi mad’u. Dengan demikian,bisa mengenali problem yang dihadapinya. Paling tidak dai dapat memberikanempati kepadanya dan hal itu akan meringankan beban penderitaannya.Akan lebih baik lagi bila ia bisa melakukan sesuatu yang konkret yangdapat dirasakan oleh si mad’u.

d. Menebar Senyum

Menampilkan wajah ceria dan senyum adalah amal shalih yang ringanuntuk dilaksanakan, tapi punya nilai mulia di sisi Allah dan pengaruhbesar pada manusia. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkaumeremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bisa menemuisaudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim). Sebab, “Senyummu di hadapanwajah saudaramu adalah shadaqah.” (Ibnu Hibban)

e. Jauhi kesombongan

Seorang yang sedang mengkampanyekan kebajikan boleh saja menampilkanhal-hal baik yang pernah dilakukannya, sebagai upaya tahadduts binni’mah(menceritakan kenikmatan). Akan tetapi, ia harus berupaya untuk menjauhiriya dan kesombongan. Qatadah mengatakan, “Siapa yang diberi harta, atau ketampanan (kecantikan) ,atau pakaian, atau ilmu kemudian tidak bersikap tawadhu’ maka semua ituakan menjadi kebinasaan bagi dirinya pada hari kiamat.”

f. Hati-hati dalam berjanji.

Membuat janji secara akurat dan tidak mengobralnya. Melanggar janjiakan membuat Allah marah dan menyebabkan manusia kecewa sertakehilangan kepercayaan. Oleh karena itu agar kita termasuk orang yangmelanggar janji, membuat janji secara cermat dan akurat adalah pilihanyang tepat. Daripada mengumbar janji, lebih produktif menampilkan bukti-bukti. Jangan sampai kita terjebak untuk menyaingi atau mengimbangi janji-janji para penyeru kebusukan dengan janji busuk serupa. Keseriusan dalam memperbaiki keadaan umat dapat dilihat dari sejauh mana para dai dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupannya.Memang untuk konsisten dalam kebenaran memerlukan stamina ekstra.Karena, penegak nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan selalu berhadapan dengan pemelihara kezhaliman. Orang yang berusaha hidup bersih dari korupsi akan berhadapan langsung dengan orang yang membangun kejayaan dengan korupsi.

Allahu a’lam.

Sabtu, 21 Februari 2009

MITOS MENGENAI SUKSES


Saya akan mengungkap 2 mitos tentang sukses. Mungkin Anda akan terkejut dan tidak percaya terhadap apa yang saya tulis. Atau mungkin Anda akan protes. Sebaliknya, jika Anda setuju dan percaya terhadap apa yang saya tulis maka Anda sungguh sudah memiliki pemahaman dan pencerahan dalam pencapaian sukses. Mitos adalah suatu keyakinan yang kebenarannya tidak bisa dibuktikan. Apa dua mitos sukses yang saya maksud? Pertama: “sukses harus dengan kerja keras”. Kedua: “orang sukses adalah orang yang terampil atau pintar”. Saya akan tunjukan bahwa kedua hal ini sebenarnya hanya mitos.
Jika sukses dihasilkan dari kerja keras, maka akan banyak milioner di setiap sudut kota. Tahukah Anda banyak pedagang yang berdagang dari subuh sampai larut malam namun tidak kaya-kaya? Padahal mereka sudah berdagang puluhan tahun. Tahukah Anda ada pedagang bambu yang membawa segerobak bambu dengan didorong dari desa jam 1 malam agar sampai di kota pagi hari? Apakah mereka kaya? Tidak.
Sementara, ada dua tukang bakso. Sama-sama bekerja keras mendorong gerobak bakso dari padi sampai malam. Anehnya yang satu sukses dan memiliki rumah makan bakso sendiri, sementara tukang bakso lainnya tetap mendorong gerobak dengan penghasilan jauh dibawah temannya. Apa yang salah? Padahal keduanya sama-sama bekerja keras?
Apakah kita tidak perlu kerja keras untuk sukses? Tentu saja sangat perlu. Tapi bukan satu-satunya dan bukan penyebab utama sukses.
Mitos kedua ialah masalah keterampilan. Betulkah lebih terampil akan lebih sukses? Bisa jadi Anda lebih terampil dibanding bos Anda. Banyak orang yang berkgelar MBA tetapi “tidak bisa” bisnis. Malah lulusan SDTT (SD Tidak Tamat) bisa sukses bisnis. Ini adalah realitas dan fakta, bahwa lebih pintar dan lebih terampil tidak menjamin Anda sukses.
Apakah tidak perlu terampil untuk sukses? Tentu saja sangat perlu. Jika Anda ingin sukses, salah satu syaratnya ialah Anda harus mengerti ilmunya dan terampil. Tetapi bukan satu-satunya penyebab sukses.
Lalu apa penyebab utama sukses? Sukses tidaknya Anda akan ditentukan oleh pola pikir Anda. Jika Anda sudah memiliki pola pikir yang benar, maka kerja keras akan mengikuti. Keterampilan yang diperlukan akan Anda miliki dalam perjalanan menuju sukses.
Jadi yang benar adalah:
Think and Grow Rich
bukan
Work Hard and Grow Rich

Jumat, 06 Juni 2008

anak manusia

"ingat wahai anak manusia bahwa

sebentar lagi ajalmu akan datang"